Kanker Paru-Paru Juga Menyerang Perokok Pasif

Kanker Paru-Paru Juga Menyerang Perokok Pasif

Kanker paru-paru(lung cancer) merupakan kanker yang sulit ditemukan tetapi tidak bisa diselamatkan. Perjalanan penyakit ini sangat lama, apabila ditemukan 1 centi meter saja, penyakit ini pun telah ada sejak sepuluh tahun yang lalu.

Kanker Paru-Paru Juga Menyerang Perokok Pasif

“Oleh karena itu mendeteksi secara dini kanker paru-paru ini sangat penting namun sayangnya untuk mendeteksi kanker paru-paru biayanya sangat mahal” kata dr. Elisna Syahruddin, PhD, SpP(K) pada saat diskusi tentang Tantangan Dianogsis Dini dan Harapan Hidup Kanker Paru-Paru di Jakarta.

Kanker paru-paru biasanya menyerang laki-laki dan perempuan, mereka yang berusia di atas 40 tahun dan merupakan perokok aktif dan pasif.

“Perokok pasif adalah seseorang yang berada di lingkungan yang terpapar asap rokok dalam waktu yang lama dan secara terus menerus, misalnya di dalam bis selama perjalanan ke tujuan kerja setiap hari yang dilakukan secara terus –menerus dalam waktu bertahun-tahun atau berada dalam lingkungan kerja,” kata dr. Elisna Syahruddin.

Kanker paru-paru, tidak mempunyai gejala khusus dan secara umum keluhannya hanya batuk, sesak nafas, nyeri di dada, turun badan secara drastis.

“Jika batuk dalam waktu yang lama dan lebih dari 2 minggu jangan diabaikan, segera periksakan diri ke dokter, supaya dokter memeriksa dan menentukan apakah terserang TB atau ada gejala keganasan,” katanya.

Kanker paru-paru tidak diturunkan dari keluarga, namun karena kanker ini ini tumbuh di sel, kadang-kadang ada sel yang tidak terkontrol.

“Hal ini berbeda dengan kanker payudara dan kanker ovarium, kemungkinannya menurun hanya pada anak perempuan” dr. Elisna Syahruddin.

Pada tempat yang sama dengan dr. Elisna Syahruddin, dr Niken Wastu Palupi menjelaskan, menurut data Globocan, kasus baru kanker paru-paru sekitar 26/100ribu dengan kematiannya 22/100 ribu juga.

“Sehingga menjadikan kanker paru-paru sebagai penyakit dengan rasio harapan hidup yang rendah. Ini berbeda dengan kanker payudara yang rasio harapan hidupnya lumayan tinggi” katanya.

Penyakit pre-valensi kanker yang ada di Indonesia, Riskesdas 2013 sebanyak 1,4/100.000 dan bersamaan dengan meningkatnya jumlah kasus kanker paru-paru, meningkat juga jumlah angka kematiannya.

“Untuk dalam hal pembiayaan, ini tantangan, selain kasus ini meningkat, biaya juga dari tahun ke tahun semakin tinggi, menurut data BPJS tahun 2014 kanker sekitar 1,5 triliun, tahun 2015 naik menjadi 2,2 triliun, berlaku untuk pasien rawat jalan dan rawat inap,” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *